Penyebab Terjadinya Pemutihan Karang

Tekanan penyebab pemutihan antara lain tingginya suhu air laut yang tidak normal, tingginya tingkat sinar ultraviolet, kurangnya cahaya, tingginya tingkat kekeruhan dan sedimentasi air, penyakit, kadar garam yang tidak normal dan polusi. Mayoritas pemutihan karang secara besarbesaran dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini berhubungan dengan peningkatan suhu permukaan laut (SPL) dan khususnya pada HotSpots (Hoegh-Guldberg, 1999).

HotSpot adalah daerah dimana SPL naik hingga melebihi maksimal perkiraan tahunan (suhu tertinggi pertahun dari rata-rata selama 10 tahun) dilokasi tersebut (Goreau dan Hayes, 1994). Apabila HotSpot dari 1°C diatas maksimal tahunan bertahan selama 10 minggu atau lebih, pemutihan pasti terjadi (Wilkinson et al., 1999; NOAA, 2000). Dampak gabungan dari tingginya SPL dan tingginya tingkat sinar matahari (pada gelombang panjang ultraviolet) dapat mempercepat proses pemutihan dengan mengalahkan mekanisme alami karang untuk melindungi dirinya sendiri dari sinar matahari yang berlebihan. (Glynn, 1996; Schick et al., 1996; Jones et al., 1998).

pemutihan karangPeristiwa pemutihan dalam skala besar di tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an tidak dapat dijelaskan keseluruhannya sebagai akibat dari faktor tekanan lokal seperti contohnya sirkulasi air yang buruk dan segera dikaitkan dengan peristiwa El Niño (Glynn, 1990). Tahun 1983 adalah tahun tercatatnya El Niño terkuat hingga saat itu, diikuti oleh peristiwa serupa tahun 1987 dan yang kuat lagi tahun 1992 (Goreau dan Hayes, 1994). Pemutihan karang telah muncul pula di tahun yang bukan merupakan tahun-tahun ElNiño, dan telah dikenali sebagai faktor lain selain naiknya SPL yang dapat terkait, seperti angin, awan yang menutup dan hujan (Glynn, 1993; Brown, 1997).

Peristiwa pemutihan dalam skala besar dipengaruhi oleh naik-turunnya SPL, dimana pemutihan dalam skala kecil seringkali disebabkan karena tekanan langsung dari manusia (contohnya polusi) yang berpengaruh pada karang dalam skala kecil yang terlokalisir. Pada saat pemanasan dan dampak langsung manusia terjadi bersamaan, satu sama lain daapt saling mengganggu. Apabila suhu rata-rata terus menerus naik karena perubahan iklim dunia, karang hampir dapat dipastikan menjadi subjek pemutihan yang lebih sering dan ekstrim nantinya.Oleh karena itu, perubahan iklim saat ini dapat menjadi ancaman terbesar satu-satunya untuk terumbu karang diseluruh dunia.

 

Dimana Saja Pemutihan Karang Telah Terjadi?

 

Catatan atas pemutihan karang dimulai sejak tahun 1870 (Glynn, 1993), tetapi sejak tahun 1980-an peristiwa pemutihan lebih sering terjadi, meluas dan parah (Goreau dan Hayes, 1994; Goreau et al., 2000). Pada tahun 1983 1987, 1991 dan 1995, pemutihan dilaporkan meliputi seluruh daerah tropis di Samudra Pasifik dan India juga di Laut Karibia. Saat ini tidak ada standarisasi metode untuk menghitung pemutihan karang dan sering terjadi perdebatan mengenai apakah pemantau yang tidak berpengalaman telah mengestimasi skala dan tingkat keparahannya terlalu tinggi (Glynn, 1993). Selanjutnya, ditahun-tahun ini, ada banyak pemantau yang menyediakan laporan pemutihan dari banyak daerah di dunia dibandingkan sebelumnya (lihat Wilkinson, 1998). Akan tetapi, bahkan pada saat penelitian terumbu yang aktif di tahun 1960-an dan 1970-an, tercatat hanya 9 pemutihan karang yang besar, dibandingkan dengan 60 catatan besar dalam kurun waktu 12 tahun mulai 1979 hingga 1990 (Glynn, 1993).

Pemutihan karang 1998 adalah salah satu dari yang terluas secara geografis yang pernah terjadi dengan tingkat kematian karang tertinggi yang pernah tercatat, khususnya di daerah Samudera Hindia. SPL naik diatas batas toleransi dalam jangka waktu yang lama (lebih dari 5 bulan) daripada yang pernah dicatat sebelumnya (Goreau et al., 2000; Spencer et al., 2000). Karang-karang bercabang merupakan yang pertama kali terkena, dimana karang-karang masif, yang tampaknya lebih mampu mengatasi hangatnya SPL yang luar biasa, juga terpengaruh saat kondisi ini berlanjut.

Daerah yang terpengaruh di wilayah Samudera Hindia meliputi sebagian besar terumbu karang disepanjang garis pantai timur Afrika; Arab, kecuali Laut Merah bagian utara; Kepulauan Komoros; sebagian dari Madagaskar; Kepulauan Seychelles; selatan India dan Sri Langka; Kepulauan Maldiva dan Kepulauan Chagos. Di tempattempat tersebut, banyak karang tidak dapat bertahan hidup dan kematian karang berkisar 70–99% (Linden dan Sporrong, 1999; Wilkinson et al., 1999).

Terumbu di selatan Samudera Hindia sekitar Reunion, Mauritius, Afrika Selatan dan Madagaskar juga terkena dampaknya walaupun tidak separah atau selama itu. Kebanyakan karang akhirnya pulih seperti sediakala. Hal ini diperkirakan karena kondisi muson saat itu, sehingga terjadi penutupan awan yang mengurangi intensitas sinar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *