biomonitoring lingkungan

Pengertian Biomonitoring Lingkungan

Biomonitoring adalah metode pemantauan kualitas air dengan menggunakan indikator biologis (Bioindikator), saat ini metode ini telah banyak dikembangkan di beberapa negara.

Yang dimaksud dengan bioindikator adalah kelompok atau komunitas organisme yang keberadaannya atau perilakunya di alam berhubungan dengan kondisi lingkungan, apabila terjadi perubahan kualitas air maka akan berpengaruh terhadap keberadaaan dan perilaku organisme tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai penunjuk kualitas lingkungan.

sumber gambar: mae.gov.nl.ca

Jenis ideal yang dapat digunakan sebagai bioindikator adalah organisme akuatik yang tidak memiliki tulang belakang (makroinvertebrata).

Makroinvertebrata air terdiri dari larva Plecoptera (stonefly), larva Trichoptera (kutu air), larva Ephemeroptera (kumbang perahu), Platyhelminthes (cacing pipih), larva odonanta (capung), Crustaceae (udang-udangan), Mollusca (siput dan kerang) larva Hemiptera (kepik), Coleoptera (kumbang air), hirudinea (lintah), Oligochaeta (cacing), dan larva Diptera (Nyamuk, lalat).

Makroinvertebrata ini lebih banyak dipakai dalam pemantauan kualitas air karena memenuhi beberapa kriteria dibawah ini:

  • Sifat hidupnya yang relatif menetap/tidak berpindah -pindah, meskipun kualitas air tidak mengalami perubahan.
  • Dapat dijumpai pada beberapa zona habitat akuatik, dengan berbagai kondisi kualitas air.
    Masa hidupnya cukup lama, sehingga keberadaannya memungkinkan untuk merekam kualitas lingkungan di sekitarnya.
  • Terdiri atas beberapa jenis yang memberi respon berbeda terhadap kualitas air.
  • Relatif lebih mudah untuk dikenali dibandingkan dengan jenis mikroorganisme.
  • Mudah dalam pengumpulan/pengambilannya, karean hanya dibuthkan alat yang sederhana yang dapat dibuat sendiri.

Makroinvertebrata ini menempati beberapa daerah yang dipengaruhi oleh cahaya matahari. Sehingga beberapa jenis bioindikator sangat sensitif terhadap perubahan. Sebagai bioindikator, biota mkroinvertebrata dapat memenuhi tujuan pemantauan kualitas air yang hakiki, yaitu :

Dapat memberikan petunjuk telah terjadi penurunan kualitas air, Dapat mengukur efektivitas tindakan penanggunalangan pencemaran, dapat menunjukkan kecenderungan untuk memprediksi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada waktu yang akan datang. Sehingga pemantauan kualitas air sungai dapat dilakukan dengan melakukan pemantauan pada satwa-satwa yang ada disungai.

Rasanya belum terlambat bila kini kita mulai ikut mengamati kali Surabaya, meskipun sungai termasuk dalam ekosistem air tawar yang paling sensitif namun untuk mengalami kerusakan, terutama yang diakibatkan aktivitas manusia, untuk mengantisipasi kerusakannya sungai mengembangkan self purification sehingga ia mampu mengeliminir limbah yang masuk ke dalam badan air. Pengembangan self purification terdiri dari beberapa zona yaitu:

 

  • Zona air bersih; Zona ini terdapat jauh dihulu sungai, jauh dari sumber pencemaran indikatornya adalah masih dapat dimanfaatkannya air sebagai bahan air minum.
  • Zona Dekomposisi; Zona ini terdapat pada daerah sumber pencemaran, limbah yang mengalir akan didekomposisi/dioksidasi proses pembongkaran bahan organik oleh bakteri dan mikroorganisme. Indikator daerah ini kaya akan bakteri dan mikroorganisme.
  • Zona Biodegradasi; Pada daerah ini terjadi penurunan oksigen terlarut Dissolved Oxygen. Sehingga nilai COD di perairan sangat tinggi. Daerah ini kaya akan cacing bersilia Tubifex tubifex dan beberapa satwa yang berukuran mm, yanng berperan sebagai konsumen bakteri.
  • Zona pemulihan; Zona ini kualitas air kembali bersih, nilai oksigen terlarut kembali normal.
    Upaya pemantauan ini juga harus didukung dengan kesadaran industri untuk tidak membuang limbah yang tidak diolah kebadan sungai dan komitmen pemerintah dalam pengelolaah lingkungan hidup. Bila semua telah kita kerjakan selanjutnya kita serahkan alam untuk mengerjakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *