Mengenal Pemanasan Global

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon telah terus menerus menyatakan bahwa perubahan iklim adalah tantangan besar skala global dan ia berusaha untuk menginisiasi usaha penanggulangan perubahan iklim oleh komunitas internasional dengan mengumpulkan pemimpin-pemimpin dunia dan memastikan bahwa semua bagian dari sistem PBB berkontribusi terhadap usaha ini. Sebagai forum global dengan partisipasi dari seluruh dunia, PBB diposisikan untuk melakukan pendekatan-pendekatan tersebut dalam mengatasi perubahan iklim dunia.

Menyebutkan beberapa laporan terakhir dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) – PBB, menekankan bahwa isu perubahan iklim sangatlah jelas – bahwa pemanasan dalam sistem iklim jelas terasa, dan terjadi karena kegiatan-kegiatan manusia – Sekretaris Jenderal PBB telah meminta adanya perhatian internasional untuk menyikapi isu perubahan iklim. Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980

Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, luat dan daratan bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas atau peran manusia dalam peningkatan konsentrasi gas rumah kaca. Penyebab terjadinya perubahan iklim ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bum, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai Efek rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke Bumi, hal tersebut merupakan awal mula proses terjadinya perubahan iklim. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa dalam proses tersebut meiliki perbedaan efek rumah kaca, dengan pemanasan global dan perubahan iklim.

Rata-rata temperatur permukaan Bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 – 5,8 derajat Celsius (2,5 – 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100.

Dampak Pemanasan Global

Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9 – 100 cm (4 – 40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering.

Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh pemanasan global ini sangat besar sehingga perlu adanya upaya pengendalian pemanasan global, oleh sebab itu para ilmuan ternama dunia menyerukan perlunya kerjasama internasional serta reaksi yang cepat untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan kerusakan hutan agar tidak semakin parah.

Sebab perubahan iklim global tidak saja membawa pengaruh buruk bagi dampak regional dari perubahan iklim globall suatu wilayah namun dapat berdampak yang lebih besar lagi bagi masyarakat internasional secara keseluruhan.

Pengamatan selama 157 tahun terakhir menunjukkan bahwa suhu permukaan bumi mengalami peningkatan sebesar 0,05 oC/dekade. Selama 25 tahun terakhir peningkatan suhu semakin tajam, yaitu sebesar 0,18 oC/dekade. Gejala pemanasan juga terlihat dari meingkatnya suhu lautan, naiknya permukaan laut, pencairan es dan berkurangnya salju di belahan bumi utara. Hal tersebut akibat dari terjadinya proses kerusakan lapisan ozon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *